"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,dan janganlah kamu bercerai-berai,dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kau dahulu (masa jahiliyah) bermusuha-musuhan,maka Allah akan mempersatukan hatimu,lalu menjadilah kamu karena nikmat allah orang-orang yang bersaudara,dan kamu telah berada di tepi jurang neraka,lalu allah menyelamatkan kamu dari padanya.demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu,agar kamu mendapat petunjuk" (Qs.3:103)
Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 12, 2010

Dakwah adalah Cinta. Dan Cinta akan meminta semuanya. sampai Pikiranmu, sampai perhatianmua berjalan, duduk, dan tidurmu. bahkan, ditengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.tentang umat yang engkau cintai (Ust.Rahmat Abdullah) .Wallahu'alam bi Showwab

Jumat, Maret 26, 2010

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Tuhan)Yang Maha Pemurah
Yang telah mengajarkan Al Qur'an
Dia menciptakan manusia,
Mengajarnya pandai berbicara.
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan
Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhlukNya
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang
Dan biji-bijian yang berkulit dan dan bunga-bunga yang harum baunya
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dia menciptakan manusia dari tanah yang kering seperti tembikar
dan Dia menciptakan jin dari nyala api
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan kepunyaanNya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Semua yang ada di bumi itu akan binasakan
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kepada kamu (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
orang-orang yang berdoasa dikenal dengan tanda-tandanya lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh orang-orang berdosa
Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnaya
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelakan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maha Agung nama Tuhanmu Yang mempunyai kebesaran dan karunia
(Qs. Ar Rahman : 1-78)


*KAMMIUIN SYAHID

Istiqamah Dalam Menjalankan Ketaatan

Istiqamah dalam menjalankan ketaatan atas perintah Allah swt, hendaknya selalu ada dalam diri orang yang beriman; saat mendapatkan kebahagiaan, saat mendapatkan musibah, saat diberi kemudahan oleh Allah swt, dan saat sedang dalam kesempitan. Jika hal ini dilaksanakan, pasti hasilnya akan kelihatan.

Jangan sampai terlontar dari mulut kit bahwa ketaatan yang kita jalankan pada saat mendapatkan suatu musibah itu tidak ada manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah swt menurunkan musibah itu sebagai ujian untuk mengetahui atas keimanan kita kepada-Nya. Allah swt berfirman, Qs. Al Hajj[22]:11, Qs. Al Ankabut[29]:10

Musibah merupakan sunnatullah dan Allah swt menurunkannya untuk mengetahui siapa diantara kita yang benar-benar beriman dan yng hanya sebatas mengaku saja.

Apakah kita rela Iblis merealisasikan misinya?

Sesungguhnya orang yang duluna melaksanakan ketaatan meninggalkannya itu laksana seorang wanita yang memakianya, ia melepaskan bajunya, lalu merusak jahitannya yang telah sekian lama dijahitnya dengan susah payah. Jal ini senada dengan firman Allah swt, Qs. An Nahl[16]:92)

Iblis telah bersumpah untuk selalu menjerumuskan anak cucu Adam agar mereka terjerembab pada kubangan dosa dan jauh dari Allah swt. Lantas bagaimana mungkin kita akan rela kalau Iblis merealisasikan keinginannya? Hingga ia menjadikan diri kita lalai, berputus asa dan tidak mau melaksanakan ketaatan kepada Allah swt, bahkan terjerembab dalam kubangan dosa. Tidak ada jalan lain untuk menangkal semua tipu daya yang dilancarkan Iblis kecuali dengan semakin memantapkan keimanan. Allah swt berfirman, Qs. Saba’[34]: 20

Karena itu, laksanakan shalat malam meskipun hanya beberapa raakaat. Bacalah Al QurĂ¡n meskipun hanya beberapa ayat. Pahamilah makna ibadah, sampai Allah swt, menghilangkan kepedihan dan cobaan yang menimpa diri kita. Allah swt berfirman, Qs. Az Zumar[39]:36

Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Qayyim berkata, “Kecukupan yang sempurna disertai dengan ibadah yang sempurna, dan adanya kekurangan juga disebabkan oleh kurangnya ibadah.”

Tegar Dalam Menghadapi Perubahan Zaman

Sejak seribu tiga ratus tahun silam, banyak tantangan dan serangan yang diarahkan pada Islam dan umatnya. Bahkan sampai pada tahun-tahun terakhir. Sekiranya umat Islam benar-benar berimana kepada Allah swt, tentu semua tantangan itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Tetapi, ketika keimanan umat Islam udah rapuh, maka pada dasarnya mereka (umat Islam) telah mati, dan musuh-musuh pun hengkang karena mereka merasa tidak ada lagi gunanya memerangi umat yang sudah menjadi bangkai

Telah banyak darah kaum muslimin yang membasahi bumi dan kerusakan terjadi diman-mana disebabkan oleh tentara. Tartar pada sembilan puluh tahun silam. Kemudian kaum muslimin berhail menaklukkannya sehingga umat Islam mampu berdiri diatas kakinyasendiri. Setelah kemenangan itu kita raih yang terpenting adalah jangan sampai kita seperti seorang wanita memintal bajunya, lalu mencerai-beraikannya sendiri dan jangan sampai kita memenuhi keinginan iblis.

Tugas terpenting yang harus kita jalankan adlah berusaha selalu tetap dalam ketaatan, selalu beribadah dan menunjukkan rasa butuh kita kepada Allah swt sampai ajal datang menjemput. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt, kepada Rasulullah saw, Qs. Al Hijr[15]:99

Seorang muslim yang mengadakan transaksi dengan Allah swt adalah orang yang selalu menjaga kesehatannya. Ia menjaga waktunya dengan baik saat sebagian bsar orang lali dalam memanfaatkannya. Sekana lisannya berkata, “Jika manusia banyak yang lali untuk beribadah kepada-Mu, maka aku akn datang untuk mengabdi pada-Mu. Jika banyak manusia yang melupakn-Mu, maka aku datang untuk mengingat-Mu.” Sosok muslim seperti ini laksana malaikat yang berada dibumi dan sebagai pembawa cahaya kebenaran. Ia tidak pernah berhenti memohon kepada Allah swt.


*Amru Khalid, buku "Renungan hati"

Senin, Maret 15, 2010

Ketenangan Fikiran

Jika sahabat lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun kepenjuru telaga. Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu?

Mungkin sahabat mencoba dengan memasukkan telapak tangan ke dalam air. Atau, menghadangnya dengan ke dua belah kaki. Namun yang terjadi adalah semakin banyak melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan.

Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkan berhenti sendiri. Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran. "Semakin keras melakukan sesuatu pada pikiran, semakin sulit pula mencapai ketenangan itu".

Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Dengan senantisa ikhlas bersyukur dan menikmati ciptaan-NYa..

Sabtu, Januari 30, 2010

Dakwah Tidak dipikul oleh orang yang manja

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.
Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita lihat kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Ikhwatifillah,

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42
"Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta."
Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Ikhwatifillah,

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

ikhwatifillah,

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

ikhwatifillah,

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)
ikhwatifillah,

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

ikhwatifillah,

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Minggu, April 12, 2009

Membangun jatidiri keimanan (2)

Kondisi umat Islam pada saat ini sangat menyedihkan. Mereka terkena penyakit al Wahn (cinta dunia yang takut mati), penyakit tersebut berpangkal dari kerusakan umat islam terhadap dunia. Na’udzubillah

Islam hanya dijadikan aktivitas ritual yang beku dan kosong dari ruh dan semangat islam atau acara-acara ceremonial. Potensi manusia yang banyak tidak berguna sama sekali, karena mereka ibarat buih dilautan yang mudah diombang-ambingkan situasi dan kondisi. Maka hampir diseluruh negeri Islam, masih dalam cengkeraman pemerintah-pemerintah yang sekuler dan rakus, yang sebagaimana telah dijelskan dalam Qs. Al Anfal:65, mempunyai kekuatan maksimal 1:10 dan mempunyai kekuatan minimal 1:2 dalam melawan orang-orang kafir. Tetapi umat Islam sekarang turun kelemahan jauh dibawah minimal.sehingga sampai saat ini jumlah umat Islam yang kurang lebih 1,2M belum bisa mengalahkan orang-orang yahudi yang berjumlah hanya kurang lebih 15Juta.

Untuk menyembuhkan penyakit cinta dunia dan takut mati (Wahn), sebagai berikut:

  1. hakikat dunia

“Jabir r.a berkata, ketika Rasulullah saw berjalan dipasar dan dikelilingi orang, mendadak disana bertemu bangkai kambing yang kecil ditelinganya dan berkata: Siapakah yang suka membeli ini dengan sedirham? Jawab mereka: Tiada yang suka itu, dan buat apa itu. Nabi bertanya: Sukakah kalau ini diberikan kepadamu Cuma-Cuma? Jawab mereka: Demi Allah, andaikata itu masih hidup, ia pun cacat apalagi ia sudah jadi bangkai. Maka sabda nabi: Demi Allah, sungguh dunia lebih hina dalam pandangan Allah dari bangkai ini bagimu” (HR. Muslim)

Qs. Ali Imran:14, Qs. Al Hadid:20, Qs. Al Jumu’ah:2, Qs. Ali Imran: 15

  1. hakikat mati

Qs. Ali Imran:185, dalam ayat tersebut menjelaskan pada semua makhluk, yang dikhususkan untuk manusia, yakni: pertama, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kedua, sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Ketiga, barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka sesungguhnya ia telah beruntung (sukses). Keempat, kehidupan didunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

“Surga dikelilingi dengan sesuatu yang membencikan, mereka dikelilingi dengan sesuatu yang menyenangkan”

Al Qur’an menyebutkan beberapa cirri khas dan karakteristik rijal, yakni:

  1. suka membersihkan diri

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba’) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat didalamnya. Didalamnya ada rijal yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Qs. At Taubah:108)

Bersih tersebut yang dalam arti lengkap dan sempurna mencakup semua unsure kebersihan lahir dan bathin.

  1. tidak melupakan Allah dalam melakukan kegiatan

“Rijal yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat dan dari membayar zakat, mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (Qs. An Nur:37)

  1. memimpin wanita

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpinan bagi kaum wanita oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain” (Qs. An Nisa:34)

  1. menpati janji untuk tetap berjihad dijalan Allah

”Diantara orang-orang mukmin ada rijal yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak berubah (janjinya)” (Qs. Al Ahzab:23)

...Allahu Ghoyatunna, Rasul Qudwatunna, Al Qur’an Dhusturunna, al Jihad tussabilunna, wal mautu fii sabillillah asma’amaninah...” Allah adalah tujuanku, Rasulullah teladan hidupku, Al Qur’an pedomanku, al Jihad jalan hidupku, dan mati syahid setinggi-tinggi cita-citaku...

Dalam bukunya Fathiyakan yang berjudul ”konsep dan penguasaan juru da’wah”, menjadi penguasaan da’wah menjadi dua yaitu penguasaan intern dan penguasaan ekstern. Yang dimaksud dengan penguasaan ekstern adalah kemampuan da’i untuk menarik manusia supaya menerima da’wah dan menyambut seruan Islam. Sedangkan, penguasaan intern adalah kemampuan da’i untuk membina dan mengarahkan manusia yang sudah menyambut seruan Islam menjadi rijal.

Untuk mencetaknya yakni pertama Stabilitas Moral (Ma’nawiyah Mutawazinah); Qs. Al Baqarah:256. kedua, gerakan yang terus menerus (istimroriyah harokiyah); Qs. Yusuf: 108. ketiga, soliditas organisasi (Matanatu tandzim).

Kualitas umat sangat terkait dengan kualitas interaksi mereka dengan al Qur’an, dan krisis aqidah akhlak umat yang sangat terkait. Realitas umat islam terkait dengan Al Qur’an, yakni:

· ummiyah (Buta Huruf tentang Al Qur’an)

· juz’iyah Al Iman (Parsial dan Tidak Utuh dalam Mengimani Al Qur’an)

· Ittiba Manhaj Al Basyari (Mengikuti Hukum Produk Manusia)

· Tidak memahami kedudukan Al Qur’an

· Hajr Al Qur’an (Meninggalkan Al Qur’an)

· Hubud Dunya (Cinta Dunia)

Jumat, April 10, 2009

Membangun Jatidiri Keimanan (1)

dzatiyah (jati diri) merupakan sifata yang dominan pada generasi al qur'an yang unik. oleh karena itu, mereka punya peran besar melesat dengan kepahlawanan pada saat mereka mengenal kebenaran. (Qs. Azzumar:9)
kiat membutuhkan dzatiyah imaniyah

Rasulullah saw bersabda-"barang siapa diantara kamu yang mampu menyembunyikan amal sholih maka lakukanlah"(Hadits Sholih)

sesungguhnya dakwah membutuhkan orang2 yang memiliki dzatiyah imaniyah, (Qs.Yaasin:20),Qs. Al Mu'min:28.

manusia harus mempersiapkan bekal kehidupan yang sebenarnya. bekal adalah kebaikan, kebajikan dan taqwa.

izzah adalah sebuah kemuliaan, kekuatan mungkin yang dikenal sekarang adalah gengsi kali ya.. syngguh "izzah" yang dimiliki oleh manusia bersumber dari Allah swt yang diberikan untuk makhluknya yang sesuai dengan pendekatan pada Rabbnya, "semakin dekat dengan nilai2 Allah semakin kuat memiliki izzah". betul enggak seeh...??? (Qs.63:8)
akan tetapi kebanyakan dalam kehidupan saat ini manusia mengenal izzah atau mencari ke-izzah-an itu berbagai macam cara. ada yang dari kejar2an kesarjanaan, kedudukan, bahkan kekayaan. na'udzubillah... mereka sepeti itu mungkin terkenanya ghozwul fikr, atau dunia barat sudah masuk, jadi mereka melihat sangat silau sehingga mereka berfikir. kenapa gue enggak dapatkan semua itu??..ckckck aneh2 juga ya..
penyakit ini hampir mejangkit pada sebagian besar umat Islam di dunia. mungkin sebab utama dari semua itu bisa lupa Allah "Na'udzubillah" maka akhirnya mereka jadi lupa diri sendiri dan lupa visi misi sesungguhnya manusia hidup didunia. (Qs.59:19)
  • izzah sebagai manusia

Allah menciptakan manusia sebagai yang paling mulia diantara makhluk yang lain bahkan malaikat sekalipun (Qs.17:70). dalam kehebatan manusia, maka Allah telah memberikan amanah padanya dimana makhluk lain tidak sanggup memikulnya (Qs.33:27)

  • izzah sebagai pribadi muslim
    "sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahl kitab dan musyrikin (akan masuk) ke neraka jahanam, mereka kekal didalamnya. mereka itu seburuk-buruknya makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh mereka adalah sebaik-baiknya makhluk" (Qs.98:6-7)
  • izzah sebagai umat Islam
    "kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia yang menyuruh pada yang baik dan mencegah pada yang buruk dan kamu beriman pada" (Qs.3:110)

kekuatan yang harus dipersiapkan oleh umat islam adalah:

  1. kekuatan ukhuwah
  2. kekuatan wasilah (sarana)

to be continue....

Selasa, Desember 30, 2008

Jika seseorang berkata kepadanya "Saya mencintaimu (karena Allah)", hendaklah ia menjawab: "Ahabbakalladzii ahbabtaniilah" (Semoga mencintaimu dzat yang menyebabkan engkau mencintaiku).
-- HR. Abu Daud, An Nasa'i, & Ibnu Hiban--

Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta, kasih sayang, dan kedekatan mereka adalah seperti tubuh yang satu. Jika salah satu anggota tubuh itu sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan panas dingin dan tidak bisa tidur.

-- Hadits--

Minggu, Desember 28, 2008

Ruhaniyatud Da'iah "Mencapai Derajat Taqwa"

Sifat fundamental dalam mencetak seorang dai dalam persiapan membekali diri dengan bekal dakwah yaitu, Iman, Ikhlas, sabar, optimis. metode praktis dalam mempersiapkan rohani manusia, takwinul iman dan tarbiyah jiwa.
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Qs. Al Anal:29)
Taqwa kepada Allah adalah modal kekayaan inspirasi, sumber cahaya karunia. Taqwa lahir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muqarabatullah (merasa diawasi). Para Ulama mendefinisikan, Taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-laranganNya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintahNya. sebagian Ulama mendefinisikan: Taqwa dengan mencegah diri dari azab ALLAH DENGAN MEMBUAT AMal sholeh dan takut kepadaNya.
jalan mencapai ketaqwa;
  • Mu'ahadah(Mengingat Perjanjian)
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah swt apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu, sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpah itu. sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat"(Qs.An Nahl:91)
Manusia > Ber-khalwat (menyendiri) > Munajat > Iltidzam (komitmen)
  • Muraqabbah

"Yang melihat kamu ketika kamu berdiri untuk bersembahyang.(218) Dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang bersujud.(219)" (Qs. Asy Syu'ara[26])

  1. dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepadaNya
  2. dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, penyesalan dan meninggalkannya dengan total
  3. hal-hal mubah adalah menjaga dab-adab terhadap Allah dan bersyukur nikmatNya
  4. dalam musibah adalah dengan Ridho kepada Allah swt serta memohon pertolnganNya
  • Muhasabah
  • Mua'aqabah

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuha kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih." (Qs. Al Baqarah:178)

sanksi ini harus dengan sesuatu yang mubah tidak boleh sanksi yang haram seperti membakar salah satu anggota tubuh, dll

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah swt, yaitu Nabi-nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (Qs. An Nisaa:69)

  • Mujahadah (optimalisasi)

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Qs. Al Ankanuut:69)

faktor-faktor yang menumbuh suburkan ruhiyah

1. kaitan kepekaan jiwa

senantiasa mlakukan muraqabah kepada Allah swt. mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya. terakhir, membayangkan kehidupan

2. kaitan segi amaliah

memperbanyak tilawah dan tadabbur, mempelajari sirah, ma'rifatullah, dzikir, menangis karena takut kepada Allah swt disaat berkhalwat, membekali diri dengan ibadah sunnah.

*Dr. Abdullah Nashih 'ulwan

Jumat, Oktober 10, 2008

Dari Abu Ayyub ra, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa puasa di Bulan Ramadhan, Lalu puasa 6hari di Bulan Syawal pahalanya seperti puasa sepanjang masa"
HR.Muslim

Selasa, Agustus 26, 2008

PEREMPUAN

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan
mempersatukan dua orang yang berlawanan
sifatnya, maka itu akan menjadi saling
melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan,
bukan sparing partner yang sepadan.

Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan
denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan
berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang
saat engkau berada di depan atau segera
mengembalikan bola ketika bola itu terlewat
olehmu, dialah yang akan menutupi
kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-
laki : perasaan, emosi, kelemahlembutan,
keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk
melahirkan, mengurusi hal-hal sepele hingga
ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal lain, dialah
yang akan menyelesaikan bagiannya...sehingga
tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa
hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena
kehadirannya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang,
kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada
makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya
dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-
laki...tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya
karena ia ada untuk dilindungi.... tidak hanya
secara fisik tetapi juga emosi.

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat,
bahasa yang teliti dan logis yang bisa
disampaikan secara detail dari seorang laki-laki,
tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya...
kata-kata yang lembut... ungkapan-ungkapan
sayang yang sepele... namun baginya sangat
berarti... membuatnya aman di dekatmu....

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang
luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh
kelembutan perempuan. Rumput yang lembut
tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan
dengan pohon yang besar dan rindang... seperti
juga di dalam kelembutannya di situlah terletak
kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa
bertahan dalam situasi apapun.

Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut
akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.
Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu
sepersekian dari hidupnya.... tetapi jika
perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu
akan menyita seluruh hidupnya...Karena
perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki,
karena perempuan adalah bagian dari laki-laki...
apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan
menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan
menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan
menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari
keluarganya, namun ikatan emosi kepada
keluarganya tetap ada karena ia lahir dan
dibesarkan di sana.... karena mereka, ia menjadi
seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap
keluarganya, akan menjadi bagian dari
perasaanmu juga... karena kau dan dia adalah
satu.... dia adalah dirimu yang tak ada
sebelumnya.

Sabtu, Agustus 23, 2008

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) dan apabila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan" (Qs.An Nahl:53)

Kamis, Agustus 14, 2008

Merakit "Ulang" Ukhuwah Islamiyah Yang Hampir "Hilang" Oleh : Dr. H. Miftah Faridl

Ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam bukan saja mencirikan kualitas ketaatan seseorang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga sekaligus merupakan salah satu kekuatan perekat sosial untuk memperkokoh kebersamaan. Fenomena kebersamaan ini dalam banyak hal dapat memberikan inspirasi solidaritas sehingga tidak ada lagi jurang yang dapat memisahkan silaturahmi di antara sesamanya.
Meskipun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, bangunan kebersamaan ini seringkali terganggu oleh godaan-godaan kepentingan yang dapat merusak keutuhan komunikasi dan bahkan mengundang sikap dan prilaku yang saling berseberangan.
Karena itu, semangat ukhuwah ini secara sederhana dapat terlihat dari ada atau tidak adanya sikap saling memahami untuk menumbuhkan interaksi dan komunikasi. Ukhuwah Islamiyah sendiri menunjukkan jalan yang dapat ditempuh untuk membangun komunikasi di satu sisi, dan di sisi lain, ia juga memberikan semangat baru untuk sekaligus melaksanakan ajaran sesuai dengan petunjuk al-Qur'an serta teladan dari para Nabi dan Rasul-Nya.
Sekurang-sekurangnya ada dua pernyataan Nabi SAW, yang menggambarkan persaudaraan yang Islami. Pertama, persaudaraan Islam itu mengisyaratkan wujud tertentu yang dipersonifikasikan ke dalam sosok jasad yang utuh, yang apabila salah satu dari anggota badan itu sakit, maka anggota lainnya pun turut merasakan sakit. Kedua, persaudaraan Islam itu juga mengilustrasikan wujud bangunan yang kuat, yang antara masing-masing unsur dalam bangunan tersebut saling memberikan fungsi untuk memperkuat dan memperkokoh.
Ilustrasi pertama menunjukkan pentingnya unsur solidaritas dan kepedulian dalam upaya merakit bangunan ukhuwah menurut pandangan Islam. Sebab Islam menempatkan setiap individu dalam posisi yang sama. Masing-masing memiliki kelebihan, lengkap dengan segala kekurangannya. Sehingga untuk menciptakan wujud yang utuh, diperlukan kebersamaan untuk dapat saling melengkapi. Sedangkan ilustrasi berikutnya menunjukkan adanya faktor usaha saling tolong menolong, saling menjaga, saling membela dan saling melindungi.
Pernyataan al-Qur'an: Innama al-mu'minuuna ikhwatun (sesungguhnya orang-orang mu'min itu bersaudara) memberikan kesan bahwa orang mu'min itu memang mestinya bersaudara. Sehingga jika sewaktu-waktu ditemukan kenyataan yang tidak bersaudara, atau adanya usaha-usaha untuk merusak persaudaraan, atau bahkan mungkin adanya suasana yang membuat orang enggan bersaudara, maka ia berarti bukan lagi seorang mu'min. sebab penggunaan kata "innama" dalam bahasa Arab menunjukkan pada pengertian "hanya saja".
Tuntutan normatif seperti tertuang dalam al-Qur'an di atas memang seringkali tidak menunjukkan kenyataan yang diinginkan. Kesenjangan ini terjadi, antara lain, sebagai akibat dari semakin memudarnya penghayatan terhadap pesan-pesan Tuhan khususnya berkaitan dengan tuntutan membina persaudaraan. Bahkan, lebih celaka lagi apabila umat mulai berani memelihara penyakit ambivalensi sikap: antara pengetahuan yang memadai tentang al-Qur'an di satu sisi, dengan kecenderungan menolak pesan-pesan yang terkandung di dalamnya di sisi lain, hanya karena terdesak tuntutan pragmatis, khususnya menyangkut kepentingan sosial, politik ataupun ekonomi. Karena itu, bukan hal yang mustahil, jika seorang pemuka agama sekalipun, rela meruntuhkan tatanan ukhuwah hanya karena pertimbangan kepentingan-kepentingan primordial.
Karena tarik menarik antara berbagai kepentingan itulah, sejarah umat Islam selain diwarnai sejumlah prestasi yang cukup membanggakan, juga diwarnai oleh sejumlah konflik yang tidak kurang memprihatinkan. Nilai-nilai ukhuwah tidak lagi menjadi dasar dalam melakukan interaksi sosial dalam bangunan masyarakat tempat hidupnya sehari-hari. Konflik yang bersumber pada masalah-masalah yang tidak prinsip menurut ajaran, dapat membongkar bangunan kebersamaan dalam seluruh tatanan kehidupannya.
Perbedaan interprestasi tentang imamah pada akhir periode kepemimpinan shahabat, misalnya, telah berakibat pada runtuhnya kebesaran peradaban Islam yang telah lama dirintis bersama. Lalu sejarah itu pun berlanjut, seolah ada keharusan suatu generasi untuk mewarisi tradisi konflik yang mewarnai generasi sebelumnya. Akhirnya, nuansa kekuasaan pada masa-masa berikutnya hampir selalu diwarnai oleh politik "balas dendam" yang tidak pernah berujung.
Al-Qur'an memang memberikan peluang kepada ummat manusia untuk bersilang pendapat dan berbeda pendirian. Tetapi al-Qur'an sendiri sangat mengutuk percekcokan dan pertengkaran. Interprestasi terhadap ayat-ayat yang mujmal (umum), pemaknaan terhadap keterikatan sesuatu ayat dengan asbab nuzul, atau sesuatu hadits dengan asbab wurud-nya, seringkali melahirkan adanya sejumlah perbedaan. Lebih-lebih jika perbedaan itu telah memasuki wilayah ijtihadiyah.
Dalil-dalil dzanny yang biasa menjadi rujukan beramal memang memiliki potensi untuk melahirkan perbedaan. Tetapi perbedaan itu sendiri seharusnya dapat melahirkan hikmah, baik dalam bentuk kompetisi positif, mempertajam daya kritis, maupun dalam membangun semangat mencari tahu sesuai dengan anjuran memperbanyak ilmu. Sayangnya, dalam kenyataan, perbedaan itu justru seringkali melahirkan hancurnya nilai-nilai ukhuwah, hanya karena ketidaksiapan untuk memahami cara berpikir yang lain, atau karena keengganan menerima perbedaan sebagai buah egoisme yang tidak sehat.
Dan, yang lebih celaka lagi, apabila potensi konflik itu telah dipengaruhi variabel-variabel politik dan ekonomi seperti apa yang saat ini tengah dialami oleh bangsa kita yang semakin lelah ini. Ikatan agama telah pudar oleh kepentingan kekuasaan. Kehangatan persaudaraan pun semakin menipis karena desakan-desakan materialisme ataupun kepentingan primordialisme. Perbedaan paham politik sangat potensial untuk melahirkan suasana ketidakakraban yang cenderung membawa kepada suasana batin yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah.
Demikian juga perbedaan tingkah kekayaan sering melahirkan kecemburuan yang juga sangat potensial untuk mengundang suasana bathin yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah.Subhanallah, ukhuwah kini telah menjadi barang antik yang sulit dinikmati secara bebas dan terbuka. Karena ukhuwah memang hanya akan dapat terwujud apabila masyarakat sudah mampu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip tasamuh (toleransi), sekaligus terbuka untuk melakukan tausiyah (saling mengingatkan).
IBNU Abbas menegaskan tidaklah diriwayatkan daripada Nabi Muhammad saw mengenai perkataan yang diucapkannya melainkan ia menjadi peribahasa.
Antaranya ialah sabda Nabi yang bermaksud: “Orang mukmin itu tidak disengat dua kali dari satu lubang”.
“Orang yang berkuasa ialah yang boleh mengalahkan nafsunya”.
“Khabar itu tidak seperti melihat sendiri”.
“Orang yang hadir melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir”.
“Pemberi minum manusia adalah mereka yang terakhir minum”.
“Andai kata sebuah gunung berbuat zalim kepada sebuah gunung lainnya nescaya Allah Taala sudah menghancurkannya”.
“Mulai dengan diri kamu, kemudian orang yang menjadi tanggungan kamu”.
“Bencana itu tergantung pada ucapan”.
“Orang Muslim adalah cermin orang Muslim”.
“Manusia itu sama seperti gigi-gigi sikat”.
“Kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa”.
“Meninggalkan kejahatan adalah sedekah”.
“Sesungguhnya daripada syair itu ada hikmah dan sesungguhnya daripada kata-kata yang indah ada daya pesona”.
“Niat orang mukmin itu lebih baik daripada amalnya”.
“Kasihanilah makhluk yang ada di bumi, nescaya kamu dikasihani oleh Tuhan yang menguasai langit”.
“Penasihat itu diserahkan amanat”.
“Selesaikan keperluan kamu dengan merahsiakannya”.
“Siapa yang tidak menyayangi, dia pun tidak disayang”.
“Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti orang yang memakan kembali muntahnya”.
“Orang yang menunjukkan kebaikan adalah seperti yang melakukannya”.
“Cintamu kepada sesuatu menjadikan buta dan tuli”.
Setiap perbuatan yang makruf adalah sedekah”.
“Menunda pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah kezaliman”.
“Perjalanan itu sebahagian daripada seksaan”.
“Manusia itu menurut asal-usulnya seperti asal-usul (sumber) emas dan perak. Yang baik daripada mereka pada zaman jahiliah adalah yang baik di antara mereka dalam Islam apabila mereka memahami agama”.
“Kezaliman itu menjadi kegelapan pada Hari Kiamat”.
“Hati manusia diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”.
“Tidaklah mensyukuri Allah sesiapa yang tidak mensyukuri Allah dan sesiapa yang tidak mensyukuri manusia”.