"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,dan janganlah kamu bercerai-berai,dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kau dahulu (masa jahiliyah) bermusuha-musuhan,maka Allah akan mempersatukan hatimu,lalu menjadilah kamu karena nikmat allah orang-orang yang bersaudara,dan kamu telah berada di tepi jurang neraka,lalu allah menyelamatkan kamu dari padanya.demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu,agar kamu mendapat petunjuk" (Qs.3:103)
Tampilkan postingan dengan label Gudang Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gudang Ilmu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 13, 2010

Konsep Diri Pemuda Islam

“Demi masa. Sesunggghnya manusia benar-benar berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling berwsiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran” (Qs. Al Ashr: 1-3)

Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa waktu adalah tempat hal yang strategis dalam kehidupan manusia. Allah swt berfirman dalam Qs. Al Mulk:2, “Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar dia menguji kamu siapakah yang paling banyak amalnya”. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa waktu itu hidup dengan sendirinya. Syeikh Yusuf Qardhawi mengatakan, “Al waqtu huwal hayat” yang artinya: waktu adalah hidup sendiri. Jadi, setiap manusia mempunyai 3 jenis waktu yang diberikan oleh Allah swt, yakni: waktu pribadi, waktu sosial, waktu sejarah.

Oleh karena itu, waktu bisa berarti dengan batas masa kerjanya. Dalam Qs. Al Ashr, manusia dalam kerugian, kecuali mereka mempunyai 4 kategori, yakni: orang-orang yang beriman, orang-orang yang beramal shaleh, orang yang yang saling berwasiat dalam sebuah kebenaran, dan orang-orang yang saling berwasiat dalam kesabarannya.

Dari rumusan kehandak Allah swt, manusia dapat mendesaign sebuah model kepribadian. Dari keempat kualifikasi yang menggambarkan tentang kehendak Allah swt, dapat kita aktualisasikan atau rekonstruksikan dengan secara sederhana dalam 3tangga kehidupan, yakni:

· Afiliasi; memahami dengan baik alasan kita untuk memilih Islam dan jadikan sebagai basis identitas yang berbetuk paradigm, mentalitas dan karakternya. Prosesnya itu akan melahirkan 3 komitmen: komitmen aqidah, komitmen ibadah, komitmen, akhlak. Tahap ini merupakan untuk menjadikan kepribadian yang shaleh.

· Partisipasi; seseorang yang telah mencapai kesempurnaan kepribadiannya, kemudian meleburkan kelingkaran kehidupan sosial masyarakat, akan tetapi partisipasi yang kita inginkan harus partisipasi integral yang mengakar pada emosi kita. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu kita miliki dalam tahap partisipasi, yaitu: mendukung proyek kebajikan dan melawan proyek kehancuran, factor pemberi manfaat untuk masyarakat, perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial. Tahap ini merupakan menjadi dai.

· Kontribusi; dalam hal ini, dikontribusikan kedalam 4 bidang, yaitu: pemikir, leadership/kepemimpinan, professional, financial. Tahap ini merupakan menjadikan seorang mujahi.

Untuk dapat menyerapkan Islam dalam kepribadian, setiap muslim harus:

a. Memiliki konsep diri yang jelas, yakni memahami diri kita sebagai wadah kepribadian.

b. Mengetahui model manusia ideal, yaitu memahami Islam sebagai sesuatu yang mengisi wadah itu.

c. Melakukan adaptasi, yaitu adaptasi antara isi dan wadah.

“bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu” (Qs. At Taghabun.64:16)

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa Allah mengetahui keterbatasan kita sebagai manusia dan dalam keterbatasan yang kita miliki. Nabi saw bersabda: “Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya”. Jika, kita sudah mengetahui kadar kemampuan dirinya, kita bisas memposisikan diri dengan tepat dalam berbagai kehidupan.

Akan tetapi, manusia mempunyai 2 ciri dalam keterbatasannya:

a. Sifat parsial; tidak bisa memiliki segala bidang

b. Dalam lingkar parsial, kemampuan kita juga sangat terbatas.

Dalam konteks keterbatasan itu, Allah swt berfirman: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya”. (Qs. Al Baqarah: 286)

Jadi, dalam hal ini bergantung semuanya dengan pengetahuan tentang diri kita atau konsep diri. Kenapa kita perlu mengenal tentang konsep diri? …

Coba lihat kembali, dalam Qs. At Taghabun:16. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa potensi manusia itu terbatas dan dalam keterbatasan tersebut kita harus berislam dalam keterbatasan tersebut. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ada 2 pengetahuanyang terpenting, yakni: ma’rifatullah dan ma’rifatunnafs. Artinya, mengetahui Allah berarti mengetahui tujuan hidup, begitu pula dengan mengetahui diri sendiri; mengetahui diri sendiri mengantarkan kita agar sampai kepada tujuan yang kita inginkan.

Konsep diri adalah suatu kesadaran pribadi yang utuh dan mendalam tentang visi misi hidup, pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilai yang membentuknya.

menurut Carl Rogers Konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenal pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Konsep-diri memiliki tiga dimensi, yaitu:

1. Pengetahuan tentang diri anda

Adalah informasi yang anda miliki tentang diri anda. Misalkan jenis kelamin, penampilan, dan sebagainya.

2. Pengharapan bagi anda

Adalah gagasan anda tentang kemungkinan menjadi apa kelak.

3. Penilaian terhadap diri anda

Adalah pengukuran anda tentang keadaan anda dibandingkan dengan apa yang menurut anda dapat dan seharusnya terjadi pada diri anda. Hasil pengukuran tersebut adalah rasa harga diri.

Ada 3 tingkatan dalam konsep diri, yakni:

1. Aku – diri: aku seperti yang aku pahami. Aku Diri adalah cara kita mempersepsi diri, seperti kita memiliki pemahaman seperti itu adanya.

2. Aku – sosial: aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada disekitarku. Cara orang memahami kita juga memengaruhi diri sendiri.

3. Aku – ideal: aku yang aku inginkan. Ada orang yang begitu kuat keyakinan tentang aku – idealnya. Aku – ideal yang tidak memiliki korelasi kuat dengan aku – diri disebut pemimpi.

Dalam standarnya, aku – diri dan aku – sosial adalah variable, sedangkan standarnya adalah nilai Islam. Hal ini harus dijadikan standard an pedoman yang membimbing diri kita. Oleh karena itu, tingkatan diri yang ideal adalah saat pengadaptasian antara diri kita dan nilai Islam semakin klop.

Aku – diri: pemahaman diri yang efeknya memberikan ketenangan karena kita memahami diri kita.

Aku – sosial: memberikan rasa penerimaaan.

Aku – ideal: bagaimana kita menjadi benar

Upaya menemukan konsep diri yang utuh dan jelas adalah proses internalisasi atau suatu proses perjalanan ke dalam diri sendiri yang cukup rumit. Langkah-langkah aplikasinya, yaitu:

1. Ketenangan jiwa; penghayatan misi hidup.

2. Penelusuran diri

3. Pemetaan potensi dan pemilihan peran

4. Pengembangan kapasitas internal


------refence: Matta, M.Anis. "Model Manusia Muslim Abad XXI; pesona manusia pengemban misi peradan Islam". Progressio, Bandung: 2006

Matta, M.Anis. "Delapan Mata Air Cemerlang". Tarbawi Press, Jakarta:2009


Kamis, Juni 04, 2009

Interpretasi Psikologi, Evaluasi Terhadap Interpretasi, Jenis-jenis dan Tahapan-tahapannya (Psiko.Diagnostik)

PENDAHULUAN

Interpretasi adalah analisa sesuatu apa yang selalu kita lakukan. Kita memberikan arti pada suatu kejadian, mimpi, tingkah laku seseorang. Kita melakukan interpretasi apabila berhadaan dengan sesuatu hal yang kita duga.

Pada pemerirkasaan psikodiagnosis, dimana dalam tahap akhir seorang psikolog diharapkan dapat membuat suatu sintesis, suatu gambaran atau suatu diagnosis mengenai “struktur psikis”, ia akan membicarakan tentang sifat, bakat atau kemampuan. Dan disitulah seorang psikolog akan melakukan interpretasi psikologis, yakni memberikan arti kepada gejala-gejala yag ia jumpai yang merupakan ekspresi dari suatu potensi seorang yang dihadapi.

PEMBAHASAN

Interpretasi (penafsiran) adalah suatu analisa seseorang terhadap suatu kejadia atau peristiwa tentang obyektif atau subyektif. Leon H. Levy dalam buku yang berjudul “Psychological Interpretation” (1963) menyatakan bahwa interpretasi psikologis adalah suatu kegiatan yang dilakukan apabila ada suatu keadaan yang sulit untuk dipahami secara biasa atau secara langsung. Pada dasarnya interpretasi terdiri dari kegiatan memberikan suatu kerangka referensi yang lain atau mengemukakan suatu bahsa lain begi sejumlah observasi atau tingkah laku, dengan tujuan agar hal ini dapat dipergunakan.

Jadi, interpretasi psikologis mengenai suatu hal atau isi pada suatu kejadian. Menurut Levy, terdiri dari suatu pemberi definisi kembali, atau pemberi struktur pada situasi, melalui penyaji suatu deskripsi lain mengenai tingkah laku atau apa yang diamatiya.

Sebenarnya apa yang kita lihat itu tidak pernah dari sendirinya mempunyai suatu arti. Semua peristiwa disekitar kita tidak mempunyai arti sebelum kita memberikan arti padanya. Arti yang kita berikan pada suatu kejadian atau peristiwa “interpretasi” terhadap peristiwa itu akan ditentukan bersama yakni oleh peristiwa itu sendiri, dan juga oleh kepentingan, latar belakang, dan pengalaman kita sebagai interpreter.

Ada perbedaan antara interpretasi psikologis dengan interpretasi yang lainnya. Perbedaan tersebut terletak dalam penggunaan kerangka teoritis.

Evaluasi Psikologis

Interpretasi bukanlah berarti “mencari kebenaran” dari suatu peristiwa. Suatu peristiwa bisa memungkinkan bermacam-macam interpretasi.

Dalam interpretasi psikologis, dapat mencari kerangka-kerangka referensi psikologis, yang paling sesuai dengan tujuan kebutuhan kita, dan yang sesuai atau konsisten dengan kerangka teoritis yang kita bawa kedalam situasi atau peristiwa yang di interpretasikan. Dengan demikian, terhadap suatu interpretasi, kita tidak dapat mengadakan penilaian benar atau salah, meskipuan kadang-kadang kita dapat menyatakannya sebagai tepata atau kurang tepat.

Jenis-jenis interpretasi adalah;

1. Interpretasi tidak langsung; pada umumnya dalam bentuk pusat informasi, film, program slide terpadu, rambu-rambu petunjuk, dan papan informasi.

2. Interpretasi langsung; adalah kegiatan yang secara langsung dilakukan oleh interpreter uang berinteraksi secara langsung dengan pengunjung.

Tahapan-tahapannya interpretasi diantaranya;

· Aspek semantic, merupakan mengubah data atau transformasi data (peristiwa, dinyatakan pernyaan).

· Aspek sematik, merupakan formulasi mengenai hubungan-hubungan dan hubungan ini dirumuskan yang berdasarkan suatu teori tertentu.

Kamis, April 09, 2009

Psikoterapi Eksperensial

Menurut psikoterapi eksitensial, seorang meniciptakan dan mengubah dirinya dalam kehidupan sekarang ini. Masa lalu seseorang dan “perlengkapan internal”-nya tidak sepenuhnya menentukan hidupnya. Manusia bukanlah mesin yang hanya bekerja karena kebutuhan yang metematis. Dalam terapi, relasi yang dihidupkan oleh dua orang melampaui struktur-struktur. Pribadi-pribadi (person) merupakan eksistensi dan bukanlah definisi-definisi. Kecemasan bukanlah penyakit melainkan kemungkinan-kemungkinan hidup yang dihindari. Solusi-solusi tidak terletak dimasa lalu, tidak pula didalam diri seseorang, melainkan terletak dalam hidup yang secara radikal terbuka bagi pilihan-pilihan.
Psikoterapi eksperensial berkaitan erat dengan pengalamn konkret yang segera. Kindera seseorang terhadap pengalaman segera bukanlah emosi, perkataan, gerakan-gerakan otot, melainkan perasaan langsung terhadap kompleksitas situasi-situasi dan kesulitan-kesulitan tersebut.

A. Sejarah
Kirkegaard, Dilthey, Husserl, Heidegger, Sartre dan Merleau Ponty merupakan filsuf-filsuf eksistensialisme.
Dilthey (1833-1911). Wilhem Dilthey (1961) memberontak pandangan manusia dalam ilmu-ilmu pengetahuan matematis diakhir abad ke-19. dia meyakini bahwa proses kehidupan itu sendiri sangat terorganisasi dan bahwa logika hanya memperoleh dan menggunakan beberpa pola yang mengatur kehidupan itusendiri. Jadi, ilmu pengetahuan berasal dari kehidupan dan tidak bisa mengklaim untuk menjelaskan serta mereduksi kehidupan menjadi beberpa pola kecil yang dipergunakannya.
Edmund Husserl (1859-1938) kemudian mencoba mengantar pikiran berbasis baru dengan meenolak teori-teori dan spekulasi-spekulasi, serta membiarkan konsep-konsep muncul langsung dari penglaman yang sebenarnya dari orang itu. Dalam suatu basis eksperiensial penegasan-penegasan akan bermunculan langsung dari pengalaman, dari pengalaman, dan semua orang harus bisa mengeceknya dengan pengalaman mereka sendiri. Cara mendasarkan pikiran ini, oleh Husserl disebutkan “fenemologi”.
Martin Heidegger (lahir 1889; 1960-1967) memulai filsafatnya dengan fakta bahwa apa pun yang dialami seseorang pasti dalam suatu konteks, dalam suatu dunia. Orang-orang selalu “terlempar” ke dalam situasi waktu mereka mulai berpikir. Menurutnya pengalaman itu “pada dasarnya bersifat historis” yaitu, hidup dengan situasi-situasi dan pengalaman yang terbentuk secara kultural, mempunyai suatu latar belakang yang panjang, meliputi pikiran, pembicaraan dan karya generasi-generasi masa lalu. Karena itu, seseorang tidak hanya membuat sesuatu yang dikehandaki dari situasi atau pengalaman apa pun, meskipun tidak ada manusia hidup yang tertutup.
Buber (1878-1965). Martin Buber (1948), dengan cara yang sama menekankan proses relasi konkret, yang berbeda dengan mengetahui sesuatu.
Jean-Paul Sarter ( Lahir 1905; 1956), menamakan proses kehidupan, yang tidak bisa direduksi dengan definisi-definisi logis, sebagai “eksistensi”. Dia membandingkan eksistensi dengan “esensi”, kata filsafat klasik yang beraryi definisi. “Eksistensi menadului esensi”, adalah sebuah slogan eksistensialis yang berarti bahwa manusia-manusia itu menciptkan definisi-definisi, dan karena itu tidak pernah bisa direduksi menjadi definisi belaka. Sartre menulis tentang manusia-manusia senantiasa sebagai being (ada) adan non-being (tiada), definisi atau tipe person atau klasifikasi apa pun. Tak seorang pun hanya sebagai seorang pelayan atau seorang homoseks atau apa pun keadaan bertimbang dari hidup manusia. Meskipun demikian, titik persoalannya bukanlah dalam definisi terdapat perubahan yang konstan, tetapi menciptakan keadaan berimbang yang kokoh.
Merleau-Ponty (1908-1961) berpendapat bahwa tubuh yang hidup mempunyai karakteristik-karakteristik yang oleh para filsuf kuno dikaitkan dengan pengalaman dan eksistensi. Tubuh dipahami tidak saja dengan cara yang dipahami oleh pdikolog, melainkan juga yang secara fungsional menganai “maksud” peristiwa-peristiwa eksternal yang berhubungan, meskipun secara fungsional belumlah persisi. Sekali lagi apa yang diingat secara luas dari karya Merleau-Ponty adalah penegasan negatif, pengalaman adalah “samar”, ambigu, yang belum persis seperti konsep-konsep ilmiah.
Sebagai metode terapi, psikoterapi eksperiensial harus menyebutkan Whitaker, Warkentin dan Malone sebagai perintis-perintisnya, demikian juga Otto Rank, Jesse Taft, Frederick Allen, Carl Ransom Rogers.

B. Permulaan dan Perkembangan
L. Binswanger (1958;1967) mengembangkan Daseinsanalyse, yang bisa diterjemahkan sebagai analisa eksistensial, atau analisa tentang kondisi manusiawi seseorang. Menurut kemunculannya dari diskusi Heidegger tentang kasih sayang, kematian, pilihan, rasa bersalah, maka penekanannya adalah untu “berpegang teguh pada apa yang bersifat manusia.”
Medard Boss (1963) menggiring analisa eksistensial lebih jauh dan mengartikulasikan pola-pola malfunsi interpersonal yang spesifik, sekali lagi dengan suatu penekanan terhadap psikoterapi interpersonal.
Rollo May (May et al., 1958;1967) adalah pendiri psikoterapi eksistensial di Amerika Serikat. Dengan menekankan kemungkinan –kemungkinan seseorang bertemu langsung dengan kehidupannya sendiri, dan tantangan-tantangan yang tersembunyi di dalam apa, yang mula-mula, tampak sebagai kecemasan, May dengan berani menegaskan kembali kebebasan pribadi manusia dihadapan faktor-fkator determinis palsu yang tampaknya memaksa seseorang untuk menarik diri, serta menjauhi kehidupan.
Filsafat eksperiensial (Gendlin, 1962;1969) bermula dimana filsuf-filsuf eksistensialis telah berangkat, yakni dengan problem bagaiman simbol-simbol (pikiran-pikiran, pembicaraan, simbol-simbol lain) dihubungkan dengan, atau didasarkan pada proses mengalami yang konkret (concrete experiencing). Gendlin mengembangkan suatu sistem filsafat tentang relasi-relasi antara perasaan dan pikiran.
Bagi psikoterapi, sangatlah penting untuk menjelaskan bagaimana seseorang mengenal otentitas, dan bagaimana memunculkannya kedalam diri sendiri dan diri sendiri lain. Jika pikran dan tindakan yang otentik adalah “pembinaan”, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan tidak sepenuhnya dibentuk sebelumnya dalam pengalaman, lalu bagaimana orang bisa mengetahui sesuatu yang otentik, sesuatu yang “berdasarkan” pengalaman? Bagaimanan yang orang bisa membedakan pengalaman dengan pengungkapan? Jenis pembinaan lebih lanjut mana yang berdasarkan pengalaman, dan mana yang tidak otentik.
Metode pemikiran eksperiensial membiarkan orang memperoleh kekuatan yang melambangkan gaya-pegas, namun kembali lagi pada “makna eksperiensial yang terasakan” yang hendak diungkapkan seseorang. Seseorang tidak melepaskan pengalaman seolah-olah suatu konseptualisasi bisa menggantikannya. Memberi simbol, dalam pandangan ini, tidak memberikan suatu gambaran representasioanal tentang apa yang dialami, melainkan ia sendiri merupakan pengalaman lanjutan. Terdapat jenis-jenis simbolisme yang bisa dibedakan.teori perubahan kepribadian dari Gendlin (1964), yang sebagian akan diperkenalkan belakangan, secara langsung berasal dari filsafat eksperiensial (Gendlin, 1962) dan berhubungan dengan langkah-langkah proses psikoterapi berikut ini: memberikan fokus pada arti yang langsung terasakan; membiarkan langkah-langkah perasaan dan kata-kata munsul darinya; dan “pergeseran eksperiensial” berikutnya dalam situasi konkret secara langsung mengacu pada arti yang terasakan. Interaksi terapis dengan klien, baik verbal maupun non-verbal juga dipandang sebagai meneruskan pengalaman klien., dan dalam pengertian itu memberi simbol lebih lanjut padanya.

C. Status Psikoterapi Eksperiensial
Sekarang psikoterapi eksperiensial meliputi terapis yang berpikir dalam istilah-istilah eksperiensial, dan juga yang lain yang berpikir dalam kosa kata-kosa kata teoritis yang berbeda. Bukan kosa kata, melainkan cara yang dipergunakan, yang bisa menyatukan terapis-terapis eksperiensial. Terapis menamakan dirinya “eksperiensil” jika perhatian tertuju pada yang konkret, yang hidup dan merasakan langkah-langkah pasien. Kata-kata hanyalah merupakan alat untuk langkah-langkah ini.
Jadi, terapis eksperiensial menggunakan teori dan pikiran-pikiran guna menunjukkan pada apa yang hidup, yang konkret dan kemudian benar-benar terasakan, daripada memahami pasien dengan konsep-konsep dan kemudian berusa nbekerja denga monsep-konsep itu. Karena metode ini memungkinkan seseorang mempergunakan kosa kata teoritisme tertentu, maka terapis-terapis eksperiensial berbicara dalam banyak cara yang berbeda, dan berbagai metode bersama-sama, daripada menggunakan cara bertutur tertentu, karena itu, gerakan itu luas dan didalamnya terdapat garis-garis pemisah bagian yang tidak tajam.
Tidak semua terapis menggeser arah gerakan eksperensial dari apa ke abagaiman-hingga metode ini tidak tergantung pada kandungan teori yang lebih terdahulu yang dipilih seseorang, juga tidak tergantung pada apakah seseorang menggunakan kata-kata, kiasan tubuh atau tekhnik-tekhnik interaksional, atau bahkan semuanya, melainkan tergantung pada bagaimana seseorang menggunakan ini. Jadi, karena pendekatan eksperiensial ini sedang tumbuh, tidak semua terapis eksperiensil mengadopsi filsfat eksperiensial dasar, dan tidak semua mereka secara artikulatif menyadari metode eksperiensial.

D. Teori
Terdapat empat konsep dasar yaitu:
1. eksistensi adalah prakonseptual adapat dibedakan secara internal dan dapat dirasakan oleh tubuh
2. interaksi
3. otentisitas adalah suatau proses pemindahan ke masa kini, bukan masa kini muri melainkan masa lalu yang dipindahkan yang digambarkan oleh masa depan
4. nilai; proses mengalami telah eksis yang bernilai sangat penting yang bertujuan, ia bersifat lokal.
Mengalami. Konsep dasar pertama adalah mengalami.
Eksistensi adalah yang dapat dirasakan oleh tubuh, tetapi harus lebih jelas lagi tentang aspek apa dari tubuh yang dimaksudkan, dan dalam pengertian yang bagaimana penggunakan istilah “yang dapat dirasakan”
Konsep dasar kedua adalah bahwa proses mengalami itu bersifat interaksional.
Interaksi (pertemua. Sebagaimana para eksisitensialis menyatakannya, manusia adalah being-in-the-world (berada-dalam-dunia). Tanda-tanda penghubung menunjukkan bahwa satu makhluk(one being), satu peristiwa (one event) baik itu sang pribadi maupun situasi-situasi atau lingkungan-lingkungan dan alam semesta dimana seseorang hidup. Umat manusia mengalami masalah dan kesulitan dalam dunia dan dalam berinteraksi dengan manusia lain. Apa yang dirasakan oleh seorang individu bukanlah “substansi dari dalam diri”, tapi merupakan sentience (perasaan dan pengetahuan bahwa anda eksis) tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan seseorang diluar diri.
Carrying Forward (Authenticity). Otentisitas adalah proses yang dipindahkan (carried forward) kemasa sekarang. Konsep-konsep dasar yang telah dibahas sejauh ini mengimplikasikan adanya kesatuan pschy dan tubuh, sebagaimana halnya kesatuan sang pribadi dengan lingkungan (atau dunia, atau situasi-situasi). Kesatuan ketiga adalah kesatuan antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Seorang pribadi eksis dalam perasaan-perasaan tubuh, dalam situasi-situasi bersama dengan orang-orang lain, dan dalam masa lalu serta masa depan.
• Teori kepribadian
Teori eksperiensial berpendirian kepribadian itu bersifat jasmaniah dan psikis. Jasmani dan rohani adalah satu sistem yang berkembang dalam interaksi dengan orang lain. Bayi-bayi manusia lahir dengan satu otak dimana yang setengah lebih besar dari yang lain, setengahnya berfungsi dalam perkataan . struktur jasmani anak pada saat lahir mengimplikasikan bahwa suatu bahasa akan dipelajari dan suara-suara menggumam sebelum belajar bahasa. Namun, begitu bahasa apa yang dipelajari tergantung pada komunitas dimana anak itu dilahirkan. Juga, bayi akan mempunyai beberapa jenis perkembangan seksual, dengan banyak variasi pola-pola besar mana yang berkembang berdasarkan budaya tertentu. Dan sesungguhnya, pola-pola budaya ini merupakan perkembangan-perkembangan yang bersifat jasmaniah.
Karena itu, ia bukan seolah-olah makna-makna dan nilai-nilai budaya dipaksakan oleh masyarakat pada seorang individu. Seseorang tumbuh berkembang dewasa diluar suatu konteks yang sudah bersifat fisik dan sosial.
Seorang pribadi pada dasarnya bersifat jasmaniah, sosial dan psikologis, ia bukan hanya bersifat jasmaniah saja, atau sosial saja atau psikologis saja, tetapti ia mengalami tiga unsur tersebut secara serentak dalam setiap momen dan dalam setiap proses mengalami. Fisiologi, sosiologi, dan psikologi merupakan “tingkatan-tingkatan analisis” yang berbeda tetapi merupakan suatu kesalahan untuk memperlakukan ketiga unsur tersebut secara terpisah. Sikap seperti ini menciptakan suasana terbelah yang didasarkan pada “ology”.
Teori eksperiensial menganut pendirian bahwa alam sadar adalah sang tubuh. Banyak aspek, hanya beberapa diantaranya yang dapat dieksperesikan secara berbeda pada satu waktu, secara implisit dalam proses mengalami secara jasmaniah. Melalui pengutamaan, mereka membentuk pembicaraan dan tingkah laku yang given. Ketika orang-orang berekspresi secara berbeda dalam meretrospeksi satu atau lain dari banyak aspek yang membentuk suatu pembicaraan atau tingkah laku, maka satu aspek tersebut dinyatakan dalam keadaan “tidak sadar”.
Seseorang menjalani kehidupan masa kini dengan bersandar pada masa lalunya. Oleh karena itu, para pasien dalam psikoterapi biasanya mendapati bahwa baik masa kanak-kanak mereka maupun masa kehidupan mereka sekarang keduanya mempunyai andil dalam situasi sekarang yang given.
• Teori Prikoterapi
Karakter psikoterapi akan didiskusikan dibawah 5judul besar:
1. standar berpikir dari kerja terapi
2. bekerja secara implisit
3. hirarki fdari langkah-langkah eksperensial
4. cara berproses
5. kandungan-kandungan yang berasalah dari proses
Mengalami adalah sebuah proses interaksi, ada bersama oranglain dan ada-dalam lingkungan. Namun, lingkungan yang dimaksud tidak hanya satu jenis saja. Obyektifitas terhadap seorang pribadi dapat berupa lingkungan yang sedang berinteraksi. Dengan demian, tubuh itu sendiri adalah sebuah lingkungan bagi sel-sel dan organ-organ dalam tubuh. Tingkah laku berlangsung dalam lingkungan fisik dan situasional.
Terapi ekperensial utamanya menangani orang yang mengalami apa yang dapat dirasakan secara jasmaniah, yang secara implisit merupakan proses yang kompleks yang kurang tepat didefinisikan dalam kata, tindakan, interaksi atau tubuh fisiologis, tetapi secara implisit melibatkan semua ini.
Apa karekter yang membedakan pendekatan eksperensial terhadap psikoterapi adalah bahwa apa yang bersifat jasmaniah, tingkah laku dan prosedur-psosedur interaksionalo akan dilangsungkan dengan acuan konstan terhadap proses mengalami seorang pribadi. Pertama kali, ia harus dirasakan secara konkret dan kemudian diartikulasikan dalam kata-kata dan tindakan-tindakan lebih lanjut. Jika memeang menjadi point acuan konstan, tingkat-tingkat lain dapat digunakan secara efektif dan tanpa adanya proses dehumanisasi atau mekanisasi palsu.

Proses psikoterapi
Terdapat beberapa cara bekerja yang berkaitan dengan kehadiran langsung, proses mengalami yang segera dari seorang pribadi;
Pertemua rasional. Kehidupan seorang pribadi adalah berarti juga kehidupan dalam kehidupan dengan, tidak kurang sedikitpun dengan terapis dalam situasi ini dibandingkan dengan semua situasi oranglain yang dipunyai oleh orang ini. Momen yang berlangsung terdiri dari keduanya. Bagaimana seorang terapis eksperensial hendak merangkuh kejadian yang segera bersama kliennya dan kemudian menanganinya?
1. terapis harus mencermati bukan hanya pada kata-kata kliennya tetapi juga pada bagaimana mereka mengatakannya, dan pada bagaimana kehidupan kliennya pada momen dia menyatakan hal ini. Hal ini berarti mengobesrvasi wajah, tubuh, suara gestur dari klien dan membawa klien ke tataran yang lebih luas dari sekedar verbal.
2. ketika terapis harus mengkonfrontasikan perasaan, reaksi, rasa takut peristiwa-peristiwa yang menimbulkan perasaan cemas dan tidak nyman, menghindar dari situasi yang membosankan, kemarahan, ketidaksabaran-semuanya dirasakan secara focal, dan seseorang harus mengerti apa dan bagimana hal itu berkaitan dengan interaksi saat sekarang denga klien.
Pemfokuskan: akses ke eksistensi. Cara utama kedua untuk memperoleh kehidupan kehidupan yang mengalir secara konkret, yang melampaui kata-kata, adalah untuk membantu klien agar memperhatikan lebih dalam situasi prakonsepnya, yaitu hanya dapat dirasakan secara inderawi. Hal ini tidak dilakukan dengan hanya melancarkan pertanyaan-pertanyaan kedalam benaknya. Ini dilakukan dengan cara memfokuskan diri pada apa yang secara jasmaniah dapat dirasakan secara konkret tentang apa saja yang diucapkan atau diupayakan.
Tanggung jawab. Sebaliknya, terapis berpendirian bahwa pasien harus bertangungjawab atas perasaan-perasaan dan evaluasi-evaluasinya.

Mekanisme Psikoterapi
Pertanyaan teoritis mendasar adalah bagaimana dan mengapa psikoterapi mengubah seseorang. Para eksistensialis mengatakan bahwa seorang psibadi adalah tercipta dari pengalaman kehidupan yang dilakukan oleh orang tersebut, karena alasan inilah seorang pribadi berubah hanya melalui mengalami kehidupan secara berbeda dan agar lebih menghayati kehidupan
Pertanyaan tentang perubahan akan terjawab jika seseorang mengakui proses psikoterapi itu sendiri secara eksak bahwa kehidupan selanjutnya juga akan membuat seseorang berbeda. Mekanisme psikoterapi adalah cara-cara dalam mana, disebabkan oleh terapis, kehidupan pasien menjadi berbeda dengan segera. Ini ditimbulkan oleh pembuatan proses terapi secara eksperiensial menjadi otentik.

Kesimpulan

Psikoterapi eksistensial menganggap diri-pribadi sebagai “eksistensi” yang selalu melintasi batas-batas definisi-definisi dan konsep-konsep. Bagi pendekatan eksperientansial, diri-pribadi mempunyai ekses langsung ke arah eksistensi melalui proses langsung dari pengalaman yang sedang terjadi. Proses ini bernilai dan secara implisit memproyeksikan langkah-langkah masa depan. Mungkin langkah-langkah tersebut masih belum jelas sehingga membutuhkan keberadaan kreasi baru dalam pembicaraan atau tindakan. Namun demikian, syarat-syarat mereka secara implisit terfokus dengan baik dalam perasaan. Ketika seseorang memperoleh langkah-langkah pembicaraan atau tindakan, mereka menghasilkan perubhana, bukan hanya sekedar perubahan-yaitu perubahan yang secara implisit telah terproyeksikan, walaupun belum sepenuhnya terbentu. Beberapa gerak adalah “otentik” dan kontinuitas perubahan yang dirasakan menghasilkan, diketahui berbeda dari perbuhan-perubahan kasar dan imposisi-imposisi.
Seseorang itu menjasmani, berbudaya serta individualis yang menciptakan dirinya sendiri. Jadi, prosedur-prosedur terapi yang bersifat jasmani dan behavioral, sama baiknya dengan metode-metode interaksional verbal dan perasaan dapat digunakan bersama-sama sebagai organisme tunggal yang secara otentik dapat diteruskan pada “bidang-bidang” ini. Variasi kosakata teoritis dapat digunakan. Namun, tidak ada satupun dari prosedur-prosedur dan teori-teori ini mampu menangkap secara utuh karakter manusia-dan semua itu dapat digunakan secara efektif hanya jika momentum demi momentum yang dirasakan dalam individu yang mengalami, membuat kehadiran yang sesungguhnya sebagai pos penjagaan dan tempat berlabuh bagi kata-kata dan prosedur-prosedur. Untuk melangkah ke arah ini, maka terapis harus mengaktifkan semua inderanya, bersikap kritis, mengartikualsikan, serta merespons pada pengalaman yang sedang berlangsung yang dirasakan oleh pasien setiap saat, sehingga momen-momen tersebut akan menjadi pertemuan genuine antara mereka, dan apapun yang dikatakan dan yang diperbuat akan membenuk proses otentik berdasarkan pengalaman. Hal ini mengharuskan terapis untuk mengartikulasikan dan mengekspresikan secara terbuka apa yang sedang berlangsung dalam diri terapis. Jika hal ini dilakukan, sangat mungkin terapis dapat menangkap pengalamn langsung secara lebih dini dan lebih utuh daripada hanya sekedar mengandalkan tingkahlaku sang pasien saja.
Aspek eksperiensial dari psikoterapi merangkum dan melampauin batas-batas metode-metode dan prosedur-prosedur sebelumnya, serta dapat menggunakan mereka semua bahkan lebih memerincikan dasar pijak pengalaman mereka. Metode-metode jasmaniah seperti Yoga, kemoterapi, kerja otot Reich-ian serta terapi tingkah laku yang diterapkan, semua dapat digunakan. Oleh karena itu, metode eksperensial siap memodifikasikan semua pendekatan lain kedalam psikoterapi agar tercipta keadaan yang lebih manusiawi dan lebih efektif menggunakan berbagai ragam aspek khusus dari metode-metode yang sedang bersaing. Hasil-hasil penelitian juga melahirkan pandangan baru bahwa metode eksperensial edentik dengan proses mengalami yang sangat otentik selama terapi, dan bukan aspek lain tentang apa yang diucapkan atau dikerjakan oleh pasien dan terapis yang memprediksikan keberhasilan.
Penekanan eksistensial pada kemampuan persoanal untuk berubah hanya melalui proses hidup otentik yang baru dan diperbarui membutuhkan psikoterapi itu proses kehidupan itu sendiri. Hal ini sangat dimungkinkan dalam suatu komunitas yang berorientasi hubungan-hubungan otentik daripada hanya sekedar hubungan antara satu terpis dengan pasien sendirian. Dengan cara tersebut, struktur profesional lama yang artifisial dapat dimodifikasi atau di eliminir. Tren terbaru terhadap jaringan-jaringan pemuda-pemudi, kelompok-kelompok pertemuan,dll dan gaya hidup baru dapat meraih keberhasilan yang lebih besar jika dilakukan pertemuan eksperensial yang otentik dalam suasana kehidupan riil yang bertanggungjawab diantara para warga masyarakat. Dalam konteks psikoterapi, ia akan mengubah total pola hubungan dokter medis-pasien, sehingga terciptalah kehidupan. Kebudayaaan secara kesluruhan, dapat berubah bukan hanya masalah perseorangan saja.

*sumber: Psikologi Dewasa ini

Senin, Februari 02, 2009

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi adalah suatu tingkah laku, perbuatan atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna. Dan komunikasi juga merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dan untuk kontak social.
Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih akan terdapat dua diri pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dan diri oranglain yang menjadi patner komunikasi kita. Upaya mengenali oranglain bukanlah persolan sederhana.
Komunikasi memang sangat erat kaitannya dengan manusia bahkan komunikasi dengan Tuhannya. Komunikasi sangat penting dilakukan, karenan komunikasi komunikasi yang efektif dalam berkehidupan membuat kita merasa nyaman dan damai.
Dalam komunikasi antar pribadi atau komunikasi interpersonal harus dimulai dari diri sendiri, karena tampilan komunikasi yang muncul dalam setiap kita berkomunikasi merupakan cermin dari kepribadian setiap individu yang berkomunikasi.
Menurut Fisher, ketika kita berkomunikasi dengan orang lain proses intra-pribadi kita memiliki paling sedikit tiga tataran yang berbeda. Pada setiap tataran tersebut saling berkaitan dengan jumlah orang yang hadir dalam situasi antar pribadi, yaitu: pandangan kita tentang diri sendiri, pandangan kita tentang mengenai orang lain dan pandangan yang mengenai pandangan oranglain tentang diri kita.

Keberhasilan pelaksanaan komunikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu;
1. Faktor pemilihan jenis informasi atau data yang akan disampaikan
Data adalah setiap bentuk keterangan yang berfungi. Ada pula yang mengatakan bahwa data adalah hal, peristiwa atau sebuah kenyataanyang mengandung pengetahuan untuk penyususnan keterangan. Dalam Kamus Administrasi Perkantoran, data adalah bahan mentah yang melalui proses tertentu lalu menjadi keterangan.
Data merupakan bahan informasi bagi siapa saja, khususnya seorang pemimpin yang membutuhkan data untuk keputusan. Data yang akan disampaikan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
o Kegunaan data
o Kebenaran data
o Ketepatan data. Data yang dikirim harus up to date.
2. Faktor yang berhubungan dengan tekhnik penyampaian atau pengiriman data
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaian berita, yaitu;
o Kejelasan. Komunikator harus mampu memberikan apa yang dimaksud dengan tujuannya untuk menuangkan dalam bentuk berita., dengan cara mempergunakan kata-kata yang sedemikian rupa sehingga jelas dan mudah dimengerti oleh pihak yang menerima.
Dalam kejelasan adalah kejelasan maksud dan tujuan dari apa yang dikomunikasikan sehingga pihak komunikan lebih jelas dan memberikan dorongan untuk mengadakan reaksi atau respons.
o Konsekuensi dan keseimbangan. Keterangan-keterangan yang disampaikan jangan sampai bertentangan satu dengan yang lainnya atau berbeda dengan keterangan atau informasi yang telah dikirimnya.
o Kemampuan dan pelaksanaan. Cara-cara pelaksanaan komunikasi harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan keadaan.
o Keseragaman. Pergunakanlah istilah-istilah atau pengertian-pengertian, kode-kode tertentu untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dan kesimpangsiuran.
o Kelancaran distribusi
Menurut Halloran (1980) mengemukakan bahwa manuisa sebenarnya berkomunikasi dengan orang lain karena faktor lain yaitu adanya perbedaan antar pribadi, manusia meskipun makhluk yang utuh, adanya perbedaan motivasi antar manusia, dan kebutuhan akan harga diri yang harus mendapat pengakuan dari orang lain.
Jalaludin Rahmat (1994) memberikan cacatan bahwa ada tiga faktor dalam komunikasi antar pribadi yang menumbuhkan interpribadi yang baik yaitu percaya, bersikap suportif, dan sikap terbuka. Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi, yakni:
§ Persepsi interpersonal
Persepsi adalah memberikan makna pada inderawi atau menafsirkan informasi inderawi. Sedangkan persepsi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang peserta komunikasi yang salah memberikan makna terhadap pesan yang akan mengakibatkan kegagalan komunikasi.
§ Konsep diri
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif ada lima hal, diantaranya adalah:
1. Yakin akan kemampuannya dalam mengatasi masalah
2. merasa setara dengan orang lain
3. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan
4. Keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat
5. Mampu memperbaiki diri, karena ia merasa sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah
§ Atraksi interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada oranglain sikap positif dan daya tarik seseorang, komunikasi antar pribadi dipengaruhi dalam beberapa hal, yakni penafsiran pesan dan penilaian serta efektifitas komunikasi.
§ Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal adalah hubungan antara seseorang dengan orang lain. hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajat keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung pada antar peserta komunikasi.
Menurut pandangan Klinger, Gilin dan Gilin Soekanto menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi dengan oranglain meskipun dilakukan melalui interaksi dengan sendirinya, namun didorong oleh berbagai faktor-faktor pendorongnya.
Seperti halnya yang sering terjadi pada waktu sang bayi mengalami bahwa suaranya yang tak bermakna mendatangkan tanggapan social, ternyata tangis menyebabkan ibu datang membawa botol susu. Ia belajar bahwa tangisan sang bayi adalah tanda yang dapat digunakan untuk menyatakan kebutuhannya untuk melakukan sesuatu.
Dari berbagai pendapat, akhirnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi antar pribadi tidak dapat dielakan dalam hidup bermasyarakat. Suatu kesadaran akan kekurangan yang dimiliki, suatu perbedaan dalam motif (dorongan-dorongan untuk mencapai kebutuhan yang berbeda baik kebutuhan biologis dan sosiologis).
Menurut Gerungen (1986), motif meruakan suatu pengertian yang meliputi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Jadi, motif itu memberikan tujuan dan arah sikap tingkah lau.
Contohnya: Pada malam hari berkisar pukul 19.00 WIB saya menyalakan radio dan mencari gelombang RRI. Dengan motif untuk mendengarkan berita RRI atau makan tiga kali sehari, dan tidur tiap malam hari, dengan motif untuk memenuhi kebutuhan.
Dalam hubungan interaksi antar manusia yang dipelajari dalam Ilmu Sosiologi Masyarakat adalah kontak komunikasi. Ada 5 hal teori tentang pengembangan hubungan antar manusia, di antaranya adalah:
1. Teori Self Disclosure
Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Luth (1969) yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak mengetahui tentang dirinya, maupun oranglain. Untuk hal ini dapat dikelompokkan ke dalam empat macam dalam bidang pengenalan disebut Jendela Johari (Johari Window).
2. Teori Atribusi
Dalam buku “The Psyshology Interpersonal Relations (Psikologi Hubungan Antar Pribadi)”, Heider mengatakan bahwa jika kita melihat prilaku orang lain, maka kita juga harus melihat apasebenarnya yang menyebabkan seorang berperilaku seperti itu. Dengan demikian dari pihak kita harus mempunyai daya prediksi terhadap perilaku oranglain; mengapa seorang bertindak, berperilaku seperti tampak dari perhatian kita dan bagaimana mungkin sikap selanjutnya.
3. Teori Penetrasi Sosial dari Altmen dan Taylor
Menurut Altman dan Taylor bahwa Penetrasi Sosial dalam hubungan antar pribadi telah terjadi suatu penyusupan social. Ketika kita baru kenal dengan oranglain untuk pertamakalinya maka sebenarnya kita mulai dengan suatu ketidak-akraban. Dan kemudian dalam proses yang terus menerus berubah menjadi lebih akrab sehingga pengembangan hubungan terjadi.
Akhirnya, mereka menarik kesimpulan bahwa hubungan antar pribadi melewati suatu proses, terus berjalan, berubah dalam berbagai gejala-gejala perilaku yang ditunjukkannya.
4. Teori Pandangan Proses
Pokok pikiran Duck dan Sants (1983) mengemukakana bahwa kualitas dan keaslian dari suatau hubungan antar pribadi dapat diramalkan dari pengetahuan yang dimiliki oleh pasangan komunikasi kita bukan dalam kelompoknya melainkan keadaan pribadi sendiri.
5. Teori Perspektif Pertukaran
Hubungan antar pribadi bisa diteruskan dan bisa dihentikan. Hal ini disebabkan kalau seorang bisa melihat faktor-faktor pembanding dalam hubungan ntar pribadi dengan seorang dengan hubungan antar pribadi dengan yang lainnya.
Jenis-jenis hubungan antar Pribadi
1. Tahap pengenalan
Dalam tahap tersebut perkenalan seseorang dikategorikan sebagai kenalan kalau hubungannya itu terbatas pada derajat informasi yang dipertukarkan orang.
2. Tahap persahabatan
3. Keakraban dan keintiman
4. Hubungan suami dengan isteri
5. Hubungan orangtua dengan anak
6. Hubungan persaudaraan
Dalam buku “Effective Public Relations” dengan pengarangnya Scott M. Cultip dan Allen H. Center, mengemukakan faktor-faktor yang menyebabkan komunikasi yang efektif (The Seven C’s Communication), diantaranya adalah:
a. Credibilty (kepercayaan)
b. Context (perhubungan)
c. Content (kepuasan)
d. Clarity (kejelasan)
e. Continuity and consistency (kesinambungan dan konsistensi)
f. Capability of audience (kemampuan pihak enerima berita)
g. Channels of distribution (saluran peneriamaan berita)
Reference:
Liliweri, Alo. “Komunikasi Antar Pribadi”. PT Citra Aditya Bakti. Bandung: 1991
Widjaja, H.AW. “Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat”. Bumi Aksara. Jakarta;2002
Wursanto. “Etika Komunikasi Kantor”. Kanisius. Yogyakarta: 1992
Kumpulan-kumpulan makalah Ilmu Komunikasi dan Komunikasi Antar Pribadi

Al Qiyadah Wal Jundiyah



Karakter dakwah Islamiyah mewajibkan setiap Muslim bergerak dan berusaha mewujudkan tuntunan Islam. Setiap muslim berusaha mewujudkan dan menegakkan kembali Daulah Islamiyah alamiyyah, suatu Negara Islam yang bersifat Internasional. Tujuan ini dapat dicapai dengan adanya jama’ah dan melalui amal jama’i. maka amal jama’I, dalam kaitan ini adalah wajib. Sebab dalam kaidah ushul fiqh “Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya, maka ia adalah wajib” Islam buka agama individu. Ia adalah agama satu umat satu tanah air dan satu tubuh.


Allah swt berfirman: “Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (Qs. Ali Imran:103)


Jika kita menatap kembali Sirah nabawiyah Rasulullah saw yang merupakan pengalaman praktis bagi seluruh Dakwah Islamiyah. Beliau bersama jamaahnya menegakkan daulah Islamiyah, dan diikuti serta dilanjutkan para khulafaur rasyidin dengan menggunakan manhaj.
Setiap jamaah yang akan mencapai tujuannya harus memiliki manhaj yang jelas den bergerak. Jamaah harus mempunyai pemimpin yang dalam kaitan tersebut Hasan Al Banna mengatalan “Mengulang kaji seluruh organisasi atau bangsa-bangsa, anda akan dapati bahwa asas keberhasilan, kebangkitan dan pembangunannya adalah adanya manhaj tertentu dan adanya kelompok yang bergerak atas dasar manhaj tersebut”
Pimpinan dalam suatu jamaah, ibarat kata kepala bagi tbuh. Dalam kekuatan dan kesadaran serta kemampuan prima seorang pemimpin sangat menentukan kekuatan gerakan,aktifitas, produktifitas dan keselamatan perjalanan dakwah. Dari Ibnu abbas, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa mengangkat seorang laki-laki untuk satu jabatan berdasarkan sikap pilih kasih, padahal ada dikalangan mereka orang yang lebih diridhai Allah darinya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman” (HR. Al Hakam)
Dalam keanggotaan pada dasarnya kaum muslim merupakan satu angkatan yang bergerak dan berjuang bersama untuk islam. Hasan Al Banna telah menerapkan manhaj dan ushlub. Ia menggariskan jalan ini dengan tujuan mempersiapkan anggota-anggota jamaah secara berangsur-angsur (tajjarud)-pengenalan (ta’atuf) –pembentukan (takwin) –pelaksanaan (tanfidz), serta meletakkan cirri-ciri bagi seorang muslim yang akan dipersiapkan, diantaranya: akidah yang baik (Salimul Aqidah), ibadah yang lurus (Shahihul Ibadah), akhlak yang mulia/kokoh (Matinul Khuluq), kekuatan jasmani (Qawiyyul Jismi), berfikir yang cerdas/ intelek (Mutsaqaful Fikri), berjuang melawan hawa nafsu (Mujahadatul Linafsihi), menjaga waktu (Harishun ‘ala Waqtihi), berdisiplin dalam segala hal (Munazhanmun Fi Syu’unihi), memiliki faktor-faktor asasi sebagai pejuang muslim (Qadirun alal kasbi), berguna bagi orang lain (Nafi’un Lighairihi).
Imam Hasan Al Banna mengatakan yang berkenaan dengan pembentukan kader yang laik untuk memikul tanggungjawab dan tugas besar; “Umat yang berada dalam situasi seperti sekarang ini, yang sedang memikul tugas sangat penting seperti kita ini, yang tengah menghadapi berbagai tanggungjawab dan kewajiban. Tidak perlu menghibur diri dengan diam, atau berdalih dengan berbagai alasan, angan-angan dan harapan. Sebaliknya, umat ini harus mempersiapkan diri mengarungi lautan perjuangan yang panjang, penuh berbagai tantangan dahsyat serta pertarungan sengit antara haq dan bathil, antara yang berguna dan berbahaya, antara yang berhak dan perampok hak, antara ikhlas, jujur dan murni dengan palsu dan pura-pura dan antra yang berjalan lurus dan yang menyeleweng. Jihad diambil dari kata Al Juhdu yang berarti kepayahan. Ketahuilah! Bahwa kesusahan dalam berjihad menuntut kita berjuang terus sampai pertarungan berakhir. Hanya di awal perjalanan, anda sempat memuji pimpinan, tetapi jika telah berada di tengah perjalanan yang penuh resiko mengerikan, tidak ada bekal dan persiapan umat ini kecuali jiwa yang beriman, tekad yang kuat dan benar yang rela berkorban dan tampil ke gelanggang dalam keadaan apapun. Jika tidak ada kader seperti itu, maka kekalahan dan kegagalan telah menghadapnya”
Akhlak dan sifat-sifat yang dimiliki seorang pemimpin, diantaranya
1. ikhlas serta mengharapkan keridhan Allah
2. mutsaqaful fiqri (intelektual dalam berfikir)
3. berperangai penyantun, lemah lembut, kasih sayang. (Qs. Ali Imran:159)
4. bersahabat
5. berani serta sportif
6. shidiq
7. tawadhu’.(Qs. Asy Syua’ra:215, Al Maidah:54, AL Fath:29)
8. pemaaf serta berlaku Ihsan.(Qs. Ali Imran:134, Asy Syua’ra:40, Al fushilat:34)
9. menempati janjti serta setia. (Qs. Al Fath:10, Al Ahzab:23-24)
10. sabar. (Qs.Al Baqarah:153, Ali Imran:200, Azh Zhumar:10)
11. ‘iffah dan kiram. (Qs. AHasyr:9)
12. wara’ dan zuhud
13. adil dan jujur
14. lapang dada
15. memelihara kemuliaan Allah. (Qs. A Hajj: 30)
16. tawakal. (Qs. Ali Imran: 159,173-174, Ath Tala:3)
17. sederhana dalam segala hal
18. menjauhi sikap pesimistiris serta over estimasi
Beberapa persyaratan seorang aktivis:
1. Memahami arti komitmennya kepada Islam
2. Mengenali karakter tahapan dakwah yang sedang dijalaninya dengan segala tuntunannya
3. Meyakini kepada Kitabullah & Sunnahtullah
4. Yakin akan kewajiban bergerak membangkitkan Iman dalam jiwa manusia
5. Mengetahui sejelas-jelasnya bahwa amal usaha menegakkan Daulah Islamiyah adalah kewajiban setiap muslim/muslimah
6. Mengetahui bahwa kewajiban ini tidak mungkin terlaksana dengan usaha perorangan
7. Ingatlah! Kaedah Ushul Fiqh; “Maka AMal Jama’I dipandang sebagai persoalan yang wajib ditunaikan sebelum melangkah membangun kembali Daulah Islamiyah
8. Menyadari perlu memilih jamaah yang akan dimasukinya
9. sebelum memilih satu jamaah, terlebih dahulu harus meneliti sifat-sifat asasi terhadap jamaah
10. mengetahui bahwa dasar Islam adalah kesatuan kata dan Shaff. (Qs. Al Anfal:46, Ali Imran:103)
11. mengetahui bahwa amal jama’I memiliki syarat dan ilthizam yang harus diketahuinya
12. dasar beramal ini semata karena Allah swt. (Qs. Al Fath:10)
13. mengetahui persoalan penting tentang di jalan dakwah adalah muraqobatullah
Aturan dan adab pergaulan pimpinan dan anggota
1. Saling menghormati dan menghargai
2. adab pergaulan dan perbincangan
3. saling mempercayai dan berbaik sangka. (Qs. Al Hujurat:12)
4. saling menasehati
5. saling mencintai dan bersaudara. (Qs. Al Isra’: 53)
6. mempererat hubungan antara pemimpin dan anggota
7. hal pergantian pemimpin
8. tunduk dibawah Syariat Allah dan Rasul. (Qs. An Nisa:59, 65, Al Ahzab:36)
9. mengkaji berbagai harakah dan mengemban pengalaman
Diatas sudah menguraikan tentang persoalan amal jama’I, pemimpin, anggota. Uraian tersebut untuk menjamin kelancaran gerakan dakwah. Semuanya itu memerlukan tenaga, daya, serta kemampuan untuk mewujudkan seluruh tujuan dan harapan. Dan memerlukan manajemen, system dan pengawasan yang baik. Benar, dasar keberhasilan dalam mewujudkan itu semua adalah cinta, ikhlas, saling memahami, kerja sama, dll.meskipun begitu, suatu hal yang amat penting adalah mengitu system, tata tertib serta peraturan yang mengatur seluruh gerakan dan amal usaha.
Pada dasarnya menyusun dan mekanisme kerja harus berada dalam kerangka dasar-dasar Islam. Semuanya disusun dibawah sinar hidayah Rasulullah saw, perjalanan hidupnya dengan jamaah islamiyah sampai menegakkan daulah Islamiyah. Kedua, seluruh system dan peraturan dipandang sebagai alat dan sarana untuk menysun kerja dan gerakan. Ketiga, tujuan penyusunan system kerja dan peraturan bidang garapan adalah agar jamaah bergerak
*Penulisnya: Syekh Musthafa Masyhur 11,5 x 17,5 cm Cover : Soft Cover Jumlah hlm. : 182 hlm Terbit : Mei 2006

Minggu, Februari 01, 2009

Teknik Propaganda

Dari Sejarahnya sendiri, Propaganda awalnya adalah mengembangkan dan memekarkan agama Khatolik Roma di Italia maupun negara-negara lain. Sejalan dengan tingkat perkembangan manusia, Propaganda tidak hanya digunakan dalam bidang kegamaan saja tetapi juga dalam bidang pembangunan, politik, komersial, pendidikan dan lain-lain.
Oleh karena itu, dewasa ini kita mengenal (tekhnik) Propaganda juga digunakan dalam bidang seperti humas, kampanye politik dan periklanan. Ini pernah diakui oleh Brown dan Both dalam Wener J Severin dan James W Tankard (1979), "Propaganda Would Include Much Of Advertising, Much Of Political Campaigning and Much Of Public Relations"
Dalam Menghadapi mesyarakat yang tingkat pendidikannya belum begitu tinggi, tekhnik berkomunikasi dengan tatap muka akan lebih efektif dibandingkan dengan komunikasi lewat media massa. Sama saja ketika orangtua sedang melakukan komunikasi dengan anaknya. Jika komunikasi itu akan mengahsilkan sesuai yang diharapkan orangtua, ia harus melihat keadaan obyeknya. Tentu ini akan mendasari pula pemilihan tekhnik berkomunikasi jika yang dihadapinya anak remaja dan kanak-kanak.
Fakta inilah yang mendasari pula bahwa propaganda membutuhkan sebuah tekhnik yang tepat. Jika diamati secara lebih dalam, ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam melancarkan propaganda. Efektif tidaknya dan pilihan mana yang digunakan dalam sangat bergantung pada kondisi komunikan, kemampuan komunikator (prpagandis) dan lingkungan sosial politik dan budaya masyarakatnya. Berikut beberapa teknik propaganda tersebut:
1. Name Calling
adalah Propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Tujuannya adalah agar orang menolak dan menyangsikan ide tertentu tanpa mengoreksinya atau memeriksanya terlebih dahulu.
salah satu ciri yang melekat pad teknik ini adalah propagandis menggunakan sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang dituju. ini dimaksudkan untuk menjatuhkan atau menurunkan derajat seseorang atau sekelompok tertentu. Sebutan, "Jahanam", "Biang Kerok", "Provokator", "Partai Komunis Indonesia (PKI)", "Gerakan Pengacau Keamanan(GPK)" menjadi ciri khas yang melekat pada teknik ini. Teknik ini sering digunakan dalam propaganda lisan.
2. Glittering Generalities
adalah mengasosiasikan sesuatu dengan suatu "kata Bijak" yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Teknik Propaganda ini digunakan untuk menonjolkan propagandis dengan mengindetifikasi dirinya dengan segala apa yang serba luhur dan agung. Dengan kata lain propagandis berusaha menyanjung dirinya mewakili sesuatu yang luhur dan agung. Ungkapan kata-kata "demi keadilan dan kebenaran" menjadi salah satu ciri teknik propaganda ini. sekedar contoh adalah "demi keadilan dan kebenaran, maka demokrasi harus ditegakkan dalam semua bentuknya" yang pernah sangat marak ketika era reformasi tiba dan banyak diteriakkan oleh mahasiswa.
teknik ini dimunculkan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat agar mereka ikut serta mendukung gagasan propagandis. hanya kelemahannya, kadang sang propagandis sangat menonjolkan dirinya denga sebutan agung dan luhur serta menganggap dirinyalah yang paling besar sedangkan oranglain salah. sanjungan ini mempunyai kelemahan jika propagandis termasuk orang yang tak mau kompromi dan mempunyai tujuan terselubung pada setiap tindakannya. Akibatnya, bisa jadi menimbulkan klaim kebenaran sepihak.
3. Transfer
Transfer meliputi kekuasaan, sanksi dan pengaruh sesuatu yang lebih dihormati serta dipuja dari hal lain agar membuat "sesuatu" lebih diteri.
teknik propaganda transfer bisa digunakan dengan memaknai pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan beribawa dalam lingkungan tertentu. Propagandis dalam hal ini mempunyai maksud agar komunikan terpengaruh secara psikologis terhadap apa yang sedang dipropagandakan
transfer juga bisa digunakan dengan cara simbolik, seorang calon presiden yang kurang terkenal dari Chicago bernama Lar Daley biasa berkampanye menggunakan pakaian khan "Paman sam". Presiden Richard Nixon sendiri biasa menggunakan sebuah bendera Amerika pada bagian depan leher baju pada saat kampannye pula.
4. Testimonials
testimonials berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau program atau produk adalah baik atau buruk. propaganda ini sering digunakan dalam kegiatan komersial, meskipun juga bisa digunakan untuk kegiatan politik.
dalam teknik ini digunakan nama seseorang terkemuka yang mempunyai otoritas dan pretise sosial tinggi di dalam menyodorkan dan meyakinkan sesuatu hal dengan jalan menyatakan bahwa hal tersebut didukung oleh orang-orang terkemuka tadi.
5. Plain Folk
adalah propaganda dengan menggunakan cara memberi identifikasi terhadap suatu ide. teknik ini mengidentifikasi yang dipropagandakan milik atau mengabdi pada komunikan. Misalnya dengan kata-kata milik rakyat atau dari rakyat. Richard Nixon menggunakannya secara halus dan cerdik selama menjadi presiden, terutama dalam melawan tuduhan Watergate. Selama melakukan perjalanan ke Houston, dia minum kopi di sebuah Counter makanan ringan di dalam toko obat dan ngobrol dengan pelayan. Potret dari pemandangan itu dipublikasikan ke semua penjuru dunia.
cara yang dilakukan Nixon ini (basa basi politik) seolah menunjukkan bahwa ia adalah milik rakyat, bagian dari mereka dan akan berada di depan dalam memperjuangkan kepentingan mereka pula.
6. Card Stacking
card stacking meliputi seleksi dan keagungan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu pertanyaan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik untuk suatu gagasan, program, manusia dan barang.
teknik propaganda yang hanya menonjolkan hal-hal atau segi baiknya saja, sehingga publik hanya melihat satu sisi saja.
7. Bandwagon technique
teknik ini dilakukan dengan menggembar-gemborkan sukses yang dicapai oleh seseorang, suatu lembaga atau suatu organisasi. dalam bidang ekonomi, teknik propaganda ini digunakan untuk menarik minat pembeli akan suatu produk tertentu yang laku keras dipasaran. sebuah perusahaan minuman ringan dengan semboyan inilah generasi Pepsi, memberi kesan bahwa seluruh generasi meminum produk itu.
8. Reputable Mounthpiece
Teknik yang dilakukan dengan mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. teknik kini biasanya digunakan oleh seorang yang menyanjung pemimpin, akan tetapi tidak tulus. Bung Karno pernah diangkat sebagai waliyul amri dan penglima besar revolusi. teknik ini dilakukan karena ada ambisi seseorang atau sekelompok orang yang ingin aman di lingkaran kekuasaan. Atau bisa jadi teknik ini untuk memerosokkan pemimpin dengan mengemukakan yang baik-baik saja sehingga, sang pemimpin jadi lupa diri. Ini dimunhkinkan sebab dengan cara lain tidak bisa dilakukan. maka jalan meuji yang pada prinsipnya ingin menjatuhkan pun dilakukan.
9. Using All Forms of Persuations
teknik yang digunakan untuk membujuk orang lain dengan rayuan, hibauan dan "iming-iming". teknik propaganda ini sering digunakan dalam kampanye pemili. di Indonesia untuk mendapatkan simpati mesyarakat untuk mengenyam pendidikan gratis jika partainya menang. Ada pula, partai politik yang menjanjikan akan mengaspal suatu jalan jika warga di daerah tersebut memenangkan pertai tertentu.


Sumber: Nurudin, Komunikasi Propaganda, Bandung: PT. Rewmaja Rodakarya, 2002

*Materi ini disampaikan oleh Bramastyu Bontas dalam acara Dauroh Brigade '08 pada tanggal 3-4 Januari 2009 yang diselenggarakan oleh Dept. Kajian Strategi KAMMI UIN Jakarta 2008-2009

Selasa, Desember 30, 2008

"Sufi Funky"

*Thobieb Al Asyhar-Gema Insani Press,Jakarta:2005

Kamis, Agustus 14, 2008

Merakit "Ulang" Ukhuwah Islamiyah Yang Hampir "Hilang" Oleh : Dr. H. Miftah Faridl

Ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam bukan saja mencirikan kualitas ketaatan seseorang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga sekaligus merupakan salah satu kekuatan perekat sosial untuk memperkokoh kebersamaan. Fenomena kebersamaan ini dalam banyak hal dapat memberikan inspirasi solidaritas sehingga tidak ada lagi jurang yang dapat memisahkan silaturahmi di antara sesamanya.
Meskipun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, bangunan kebersamaan ini seringkali terganggu oleh godaan-godaan kepentingan yang dapat merusak keutuhan komunikasi dan bahkan mengundang sikap dan prilaku yang saling berseberangan.
Karena itu, semangat ukhuwah ini secara sederhana dapat terlihat dari ada atau tidak adanya sikap saling memahami untuk menumbuhkan interaksi dan komunikasi. Ukhuwah Islamiyah sendiri menunjukkan jalan yang dapat ditempuh untuk membangun komunikasi di satu sisi, dan di sisi lain, ia juga memberikan semangat baru untuk sekaligus melaksanakan ajaran sesuai dengan petunjuk al-Qur'an serta teladan dari para Nabi dan Rasul-Nya.
Sekurang-sekurangnya ada dua pernyataan Nabi SAW, yang menggambarkan persaudaraan yang Islami. Pertama, persaudaraan Islam itu mengisyaratkan wujud tertentu yang dipersonifikasikan ke dalam sosok jasad yang utuh, yang apabila salah satu dari anggota badan itu sakit, maka anggota lainnya pun turut merasakan sakit. Kedua, persaudaraan Islam itu juga mengilustrasikan wujud bangunan yang kuat, yang antara masing-masing unsur dalam bangunan tersebut saling memberikan fungsi untuk memperkuat dan memperkokoh.
Ilustrasi pertama menunjukkan pentingnya unsur solidaritas dan kepedulian dalam upaya merakit bangunan ukhuwah menurut pandangan Islam. Sebab Islam menempatkan setiap individu dalam posisi yang sama. Masing-masing memiliki kelebihan, lengkap dengan segala kekurangannya. Sehingga untuk menciptakan wujud yang utuh, diperlukan kebersamaan untuk dapat saling melengkapi. Sedangkan ilustrasi berikutnya menunjukkan adanya faktor usaha saling tolong menolong, saling menjaga, saling membela dan saling melindungi.
Pernyataan al-Qur'an: Innama al-mu'minuuna ikhwatun (sesungguhnya orang-orang mu'min itu bersaudara) memberikan kesan bahwa orang mu'min itu memang mestinya bersaudara. Sehingga jika sewaktu-waktu ditemukan kenyataan yang tidak bersaudara, atau adanya usaha-usaha untuk merusak persaudaraan, atau bahkan mungkin adanya suasana yang membuat orang enggan bersaudara, maka ia berarti bukan lagi seorang mu'min. sebab penggunaan kata "innama" dalam bahasa Arab menunjukkan pada pengertian "hanya saja".
Tuntutan normatif seperti tertuang dalam al-Qur'an di atas memang seringkali tidak menunjukkan kenyataan yang diinginkan. Kesenjangan ini terjadi, antara lain, sebagai akibat dari semakin memudarnya penghayatan terhadap pesan-pesan Tuhan khususnya berkaitan dengan tuntutan membina persaudaraan. Bahkan, lebih celaka lagi apabila umat mulai berani memelihara penyakit ambivalensi sikap: antara pengetahuan yang memadai tentang al-Qur'an di satu sisi, dengan kecenderungan menolak pesan-pesan yang terkandung di dalamnya di sisi lain, hanya karena terdesak tuntutan pragmatis, khususnya menyangkut kepentingan sosial, politik ataupun ekonomi. Karena itu, bukan hal yang mustahil, jika seorang pemuka agama sekalipun, rela meruntuhkan tatanan ukhuwah hanya karena pertimbangan kepentingan-kepentingan primordial.
Karena tarik menarik antara berbagai kepentingan itulah, sejarah umat Islam selain diwarnai sejumlah prestasi yang cukup membanggakan, juga diwarnai oleh sejumlah konflik yang tidak kurang memprihatinkan. Nilai-nilai ukhuwah tidak lagi menjadi dasar dalam melakukan interaksi sosial dalam bangunan masyarakat tempat hidupnya sehari-hari. Konflik yang bersumber pada masalah-masalah yang tidak prinsip menurut ajaran, dapat membongkar bangunan kebersamaan dalam seluruh tatanan kehidupannya.
Perbedaan interprestasi tentang imamah pada akhir periode kepemimpinan shahabat, misalnya, telah berakibat pada runtuhnya kebesaran peradaban Islam yang telah lama dirintis bersama. Lalu sejarah itu pun berlanjut, seolah ada keharusan suatu generasi untuk mewarisi tradisi konflik yang mewarnai generasi sebelumnya. Akhirnya, nuansa kekuasaan pada masa-masa berikutnya hampir selalu diwarnai oleh politik "balas dendam" yang tidak pernah berujung.
Al-Qur'an memang memberikan peluang kepada ummat manusia untuk bersilang pendapat dan berbeda pendirian. Tetapi al-Qur'an sendiri sangat mengutuk percekcokan dan pertengkaran. Interprestasi terhadap ayat-ayat yang mujmal (umum), pemaknaan terhadap keterikatan sesuatu ayat dengan asbab nuzul, atau sesuatu hadits dengan asbab wurud-nya, seringkali melahirkan adanya sejumlah perbedaan. Lebih-lebih jika perbedaan itu telah memasuki wilayah ijtihadiyah.
Dalil-dalil dzanny yang biasa menjadi rujukan beramal memang memiliki potensi untuk melahirkan perbedaan. Tetapi perbedaan itu sendiri seharusnya dapat melahirkan hikmah, baik dalam bentuk kompetisi positif, mempertajam daya kritis, maupun dalam membangun semangat mencari tahu sesuai dengan anjuran memperbanyak ilmu. Sayangnya, dalam kenyataan, perbedaan itu justru seringkali melahirkan hancurnya nilai-nilai ukhuwah, hanya karena ketidaksiapan untuk memahami cara berpikir yang lain, atau karena keengganan menerima perbedaan sebagai buah egoisme yang tidak sehat.
Dan, yang lebih celaka lagi, apabila potensi konflik itu telah dipengaruhi variabel-variabel politik dan ekonomi seperti apa yang saat ini tengah dialami oleh bangsa kita yang semakin lelah ini. Ikatan agama telah pudar oleh kepentingan kekuasaan. Kehangatan persaudaraan pun semakin menipis karena desakan-desakan materialisme ataupun kepentingan primordialisme. Perbedaan paham politik sangat potensial untuk melahirkan suasana ketidakakraban yang cenderung membawa kepada suasana batin yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah.
Demikian juga perbedaan tingkah kekayaan sering melahirkan kecemburuan yang juga sangat potensial untuk mengundang suasana bathin yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah.Subhanallah, ukhuwah kini telah menjadi barang antik yang sulit dinikmati secara bebas dan terbuka. Karena ukhuwah memang hanya akan dapat terwujud apabila masyarakat sudah mampu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip tasamuh (toleransi), sekaligus terbuka untuk melakukan tausiyah (saling mengingatkan).